”Menjadi inspirasi, itulah salah satu tugas kita sebagai arsitek” kata bosku malam itu, setelah salah seorang klien baru kami pulang dengan membawa sebuah surat kontrak proyek.
Malam itu adalah ujung sekaligus awal dari perjuangan bermalam-malam kami menyiapkan usulan rancangan sebuah rumah tinggal di jalan masuk utama boulevard Mediterania Pantai Indah Kapuk. Sebelum dibangun pun rancangan rumah mewah hasil diskusi antara Pak Deny, aku, serta Eko itu sudah membuat banyak orang terpesona. Bahkan ketika rancangan itu belum selesai tergambar di layar monitorku, ia sudah membuat banyak orang berhenti di mejaku dan mengaguminya. Aku yang menggambar pun mengaguminya. Setengah tak percaya ada salah satu orang kaya di Pantai Indah Kapuk ini berniat membangunnya bukan untuk meninggalinya tapi sekedar menjadikannya sebagai cara menabung properti.
Satu minggu lebih aku dan eko membuat gambarnya dan Pak Deny merancang RABnya. Lembur sampai malam selama satu minggu, sempat diuji dengan virus sality dan beberapa kali membuat aku dan Eko perang saudara. Malam minggu yang harusnya menyenangkan terusik oleh pekerjaan yang nggak kunjung selesai. Tapi malam minggu itu kami berhasil menyelesaikan 3 rancangan dengan berbagai versi RAB. Selanjutnya tinggal masalah presentasi dan kekuatan doa. Cieee……
Senin pagi ternyata kontrak belum ditandatangai. Komputer kembali rewel, sedangkan sore harinya si pemilik rumah akan datang lagi ke studio untuk menawar RAB yang masih berada di atas angka 4m. Singkat cerita senin malam akhirnya kontrak sudah ada di tangan. Bahkan sebelumnya kami sudah menunjuk siapa yang akan memimpin pembangunan rumah mewah itu. Pembangunan akan dilaksanakan secepatnya.
Senyum belum juga hilang ketika motorku memasuki kebon jeruk.
Tahukan kalian yang paling menyenangkan dari semua ini sebagai seorang arsitek? Bukan hanya perasaan dihargai idemu diterima dan direalisasikan. Tapi, setiap garis yang kau buat, setiap perhitungan yang kaupikirkan, setiap gambaran tiga dimensi struktur yang kaudiskusikan, akan menciptakan dan menyambung kehidupan banyak orang. Berawal dari garis pertama yang kau buat itu, nantinya akan ada banyak pekerjaan-pekerjaan yang menyusul. Bowplank dan patok ditancapkan, pondasi dipancangkan, orang-orang proyek melepas lelah di warung pojokan yang dibuat dadakan, pompa adukan beton kembali berputar, besi-besi tulangan diturunkan dari truk, dan banyak lagi pekerjaan di lapangan, sampai preman-preman datang meminta bagian. Bagiku, gambar denah dan tampak itu akan menuntut gambar-gambar lainnya. Studio akan ramai dengan orang yang mendiskusikan struktur, tawar menawar harga, dan teriakan Pak Deny yang menyuruhku dan Eko segera menyelesaikan gambarnya. Kami akan sibuk dikejar gambar struktur, plumbing, listrik, dan detail-detail gambar klasik yang bisa mencapai puluhan. Di meja sekretarisku telepon akan sering berdering, orang-orang menawarkan harga, lalu disusul pemesanan-pemesanan barang. Tukang-tukang bergilir datang dan pergi mulai dari tukang batu, tukang kusen, disusul tukang marmer, tukang kaca, lalu yang terakhir tukang furniture.
Bisa kau bayangkan? Garis-garis yang kami buat akan menyambung kehidupan banyak orang. Memunculkan kebahagiaan-kebahagiaan, perayaan kecil-kecilan ketika selesai memancangkan pondasi, selesai membuat plat lantai, menyelesaikan tampak, dan banyak kejadian lainnya di antara peluh setelah seharian bekerja.
Secara pribadi, kau seperti tengah membuat gambar rancangan baju. Memberi tanda di mana orang harus menggunting dan menjahitnya. Mengawasi pekerjaan mereka agar sempurna mewujudkannya. Memastikan tidak ada satu lembar pun benang yang terlewatkan. Dan setelah baju itu jadi, kau akan menyerahkannya lengkap dengan buku pedoman pemakaiannya. Fantastis, bukan? Menghadiahkan sesuatu kepada seseorang hasil dari kerja keras yang kita lakukan dengan senang hati. Membuat orang lain merasa bahagia dan dimanjakan… itulah letak kenikmatan menjadi seorang arsitek sekaligus membangunnya.
“Meski keuntungan yang kita ambil sebagai kontraktor nanti tidak banyak, setidaknya sebagai seorang arsitek kita memberikan yang terbaik. Jangan tangung-tangung dalam berkarya”, kata bosku lagi.
Dan proyek yang secepatnya akan dikerjakan ini, seperti halnya proyek2 sebelumnya, akan menjadi motor bagi tetangga-tetangganya untuk membuat yang serupa. Atau lebih baik.
Senyumku masih membekas.
Malam ini aku menemukan alasan mengapa aku begitu menyukai profesi ini. Meski duitnya nggak banyak. Hix…
