yang akhirnya kebangun….

•May 2, 2009 • 1 Comment

”Menjadi inspirasi, itulah salah satu tugas kita sebagai arsitek” kata bosku malam itu, setelah salah seorang klien baru kami pulang dengan membawa sebuah surat kontrak proyek.

Malam itu adalah ujung sekaligus awal dari perjuangan bermalam-malam kami menyiapkan usulan rancangan sebuah rumah tinggal di jalan masuk utama boulevard Mediterania Pantai Indah Kapuk. Sebelum dibangun pun rancangan rumah mewah hasil diskusi antara Pak Deny, aku, serta Eko itu sudah membuat banyak orang terpesona. Bahkan ketika rancangan itu belum selesai tergambar di layar monitorku, ia sudah membuat banyak orang berhenti di mejaku dan mengaguminya. Aku yang menggambar pun mengaguminya. Setengah tak percaya ada salah satu orang kaya di Pantai Indah Kapuk ini berniat membangunnya bukan untuk meninggalinya tapi sekedar menjadikannya sebagai cara menabung properti.

Satu minggu lebih aku dan eko membuat gambarnya dan Pak Deny merancang RABnya. Lembur sampai malam selama satu minggu, sempat diuji dengan virus sality dan beberapa kali membuat aku dan Eko perang saudara. Malam minggu yang harusnya menyenangkan terusik oleh pekerjaan yang nggak kunjung selesai. Tapi malam minggu itu kami berhasil menyelesaikan 3 rancangan dengan berbagai versi RAB. Selanjutnya tinggal masalah presentasi dan kekuatan doa. Cieee……

Senin pagi ternyata kontrak belum ditandatangai. Komputer kembali rewel, sedangkan sore harinya si pemilik rumah akan datang lagi ke studio untuk menawar RAB yang masih berada di atas angka 4m. Singkat cerita senin malam akhirnya kontrak sudah ada di tangan. Bahkan sebelumnya kami sudah menunjuk siapa yang akan memimpin pembangunan rumah mewah itu. Pembangunan akan dilaksanakan secepatnya.

Senyum belum juga hilang ketika motorku memasuki kebon jeruk.

Tahukan kalian yang paling menyenangkan dari semua ini sebagai seorang arsitek? Bukan hanya perasaan dihargai idemu diterima dan direalisasikan. Tapi, setiap garis yang kau buat, setiap perhitungan yang kaupikirkan, setiap gambaran tiga dimensi struktur yang kaudiskusikan, akan menciptakan dan menyambung kehidupan banyak orang. Berawal dari garis pertama yang kau buat itu, nantinya akan ada banyak pekerjaan-pekerjaan yang menyusul. Bowplank dan patok ditancapkan, pondasi dipancangkan, orang-orang proyek melepas lelah di warung pojokan yang dibuat dadakan, pompa adukan beton kembali berputar, besi-besi tulangan diturunkan dari truk, dan banyak lagi pekerjaan di lapangan, sampai preman-preman datang meminta bagian. Bagiku, gambar denah dan tampak itu akan menuntut gambar-gambar lainnya. Studio akan ramai dengan orang yang mendiskusikan struktur, tawar menawar harga, dan teriakan Pak Deny yang menyuruhku dan Eko segera menyelesaikan gambarnya. Kami akan sibuk dikejar gambar struktur, plumbing, listrik, dan detail-detail gambar klasik yang bisa mencapai puluhan. Di meja sekretarisku telepon akan sering berdering, orang-orang menawarkan harga, lalu disusul pemesanan-pemesanan barang. Tukang-tukang bergilir datang dan pergi mulai dari tukang batu, tukang kusen, disusul tukang marmer, tukang kaca, lalu yang terakhir tukang furniture.

Bisa kau bayangkan? Garis-garis yang kami buat akan menyambung kehidupan banyak orang. Memunculkan kebahagiaan-kebahagiaan, perayaan kecil-kecilan ketika selesai memancangkan pondasi, selesai membuat plat lantai, menyelesaikan tampak, dan banyak kejadian lainnya di antara peluh setelah seharian bekerja.

Secara pribadi, kau seperti tengah membuat gambar rancangan baju. Memberi tanda di mana orang harus menggunting dan menjahitnya. Mengawasi pekerjaan mereka agar sempurna mewujudkannya. Memastikan tidak ada satu lembar pun benang yang terlewatkan. Dan setelah baju itu jadi, kau akan menyerahkannya lengkap dengan buku pedoman pemakaiannya. Fantastis, bukan? Menghadiahkan sesuatu kepada seseorang hasil dari kerja keras yang kita lakukan dengan senang hati. Membuat orang lain merasa bahagia dan dimanjakan… itulah letak kenikmatan menjadi seorang arsitek sekaligus membangunnya.

“Meski keuntungan yang kita ambil sebagai kontraktor nanti tidak banyak, setidaknya sebagai seorang arsitek kita memberikan yang terbaik. Jangan tangung-tangung dalam berkarya”, kata bosku lagi.

Dan proyek yang secepatnya akan dikerjakan ini, seperti halnya proyek2 sebelumnya, akan menjadi motor bagi tetangga-tetangganya untuk membuat yang serupa. Atau lebih baik.

Senyumku masih membekas.

Malam ini aku menemukan alasan mengapa aku begitu menyukai profesi ini. Meski duitnya nggak banyak. Hix…

kuceritakan tentangku

•March 25, 2009 • 1 Comment

Ok, beib…. Akan kuceritakan sedikit hal tentangku, agar kamu tidak bingung ketika di tengah malam ada sms datang yang isinya “Cuma pengen bilang kalo aku kangen kamu”. Kuharap kamu sabar membacanya.

1.    Aku sangat mencintai dunia pada pukul lima sore hingga magrib saat cuaca cerah, melihat para pekerja dengan helm proyek pulang ke rumahnya, mesin2 backhoe dan bulldozer dimatikan, anak-anak kecil bermain ayunan di jalur hijau cengkareng, ibu-ibu berkumpul di pos kamling sambil menyuapi bayinya, dan matahari tampak tenggelam perlahan dari ujung atap kost-ku.

2.    Aku romantis dan bisa sangat gombal dengan orang-orang yang kusayangi.

3.    I’m crazy of Jack Sparrow.

4.    Berceritalah. Maka hingga akhir menit ke 120 pun aku tetap akan menjadi pendengar setiamu ( terutama jika itu cerita tentang dataran yang jauh, orang-orang bermata biru itu, semesta, matahari, ombak, dan dermaga. Aku bisa menjadi sangat sabar ).

5.    Jika kau berkata padaku, “berceritalah, karena aku baru pengen denger suaramu” maka kamu hanya akan mendengar rangkuman dariku. Tapi setelah itu kamu akan mendapati blog-ku penuh postingan baru. Aku memang bukan penutur lisan yang baik. Tapi kamu akan menemukan sangat banyak yang tertuliskan daripada yang terucapkan.

6.     Aku senang berkenalan dan ngajak ngobrol orang yang duduk di sebelahku setiap kali pulang naik kereta. Dan aku mendapat banyak keuntungan darinya.

7.    Bisa jatuh suka pada seseorang selama berbulan-bulan meski baru kenal dan hanya ngobrol semaleman.

8.    Suka menulis, menyukai kata, tapi lebih mencintai angka ( sorry, bee… saranku sepertinya kau harus mulai bersahabat dengan angka. It’s fun, u know…)

9.    Cepat mendapatkan motivasi tapi lebih cepat kehilangannya.

10.    I have dominant classic type A personality dan aku sering mendapatkan kesulitan karenanya. Maka jika ditanya aku akan masuk asrama mana, sebelum menjawab kuisnya aku tahu bahwa aku seorang slytherin sejati.

11.    Berada di kantor ber-AC seharian bisa mengubah pembawaanku. Tapi beri saja aku waktu satu jam untuk berpanas-panasan datang ke proyek dan ketemu tukang. Maka kamu akan melihatku tersenyum sepanjang sisa jam kantor setelah itu.

12.    Lebih senang duduk di angkringan daripada di starbucks atau J-co ( kecuali kau yang mengajaknya, Bee ) bukan karena alasan finansial.

13.    Suka segala hal yang berbau green tea : susu green tea, sabun green tea, lulur green tea, kue rasa green tea, dodol green tea… dan aku akan cepet-cepetan pesen green tea sebelum Bee memesannya jika kami makan bareng di harvest.

14.    Am I an adventurer? Entahlah… yang jelas aku menyukai tempat-tempat baru, membawa back pack, kedinginan, dan tidur beratapkan bintang. Mungkinkah itu tanda2 seorang petualang? Mungkin Bubin tidak 100% sependapat karena aku tidak menyukai resiko sebagaimana aku menyukai hal2 di atas.

15.    Seperti yang sudah kukatakan aku rela membuang pulsa hanya untuk mengirim sms yang isinya “Cuma pengen bilang kalo aku kangen kamu” atau “Happy fullmoon niteeee……”

16.    Dengan mudah aku mengatakan “I love u” pada banyak orang. (I love u, Bee… aku I love u, Dee… I love u, sand… Dan masih.  Sampai detik ini dan setelah ini…)

17.    Aku tidak menyukai keramaian apalagi tempat dengan banyak orang menjerit di dalamnya. Maka jika kau ingin mengajakku melihat pertunjukan, cukup bawa aku ke puncak bukit dan beri aku peta bintang. Kuharap kamu tidak bosan.

18.    Aku bisa menggambar sekaligus mendengarkan musik dan menghapalkan liriknya sekaligus memikirkan kelanjutan tulisanku sekaligus merencanakan apa yang akan kumakan malam ini dan sarapan besok sekaligus membuat rencana satu minggu ke depan sekaligus mengingat-ingat berapa rupiah yang sudah kukeluarkan minggu ini. So, silakan bilang aku multitasking atau ga bisa fokus tapi yang jelas aku memang tidak perfeksionis.

19.    Aku senang membuat rencana, antusias memulainya, semangat mengerjakannya, tapi sangat kesulitan menyelesaikannya ( gimana bisa jadi kontraktor kaya, kalo gini…)

20.    Cobaan hidup terberat saat ini adalah terjebak macet di belakang bajaj atau bus PO. Deborah.

21.    Suka minum kopi setiap hari meski efek spontan kafein dan gula sangat fatal buatku.

22.    Jangan heran jika kau memeriksa kamarku kau akan menemui 2 buku tebal tentang pesawat tempur, sebuah buku tentang kapal selam (kapal selam beneran, bukan pempek ), sebuah buku karangan Steven Ambrose, dan 3 model pesawat tempur yang kurakit sendiri. Satu sisi kepribadianku yang sampe sekarang juga ga bisa kupahami, bagaimana aku bisa sangat menyukai benda-benda itu.

23.    Aku menyukai warna. Dan kau akan menemukan jutaan warna di kamarku.

24.    Ingin punya piaraan ( kucing atau kelinci mungkin ) tapi sudah langsung merasa ga pede bisa melihara binatang ( piaraan terakhirku adalah seekor anak ayam yang langsung mati sebelum kami mengetahui ia jantan atau betina. Itu terjadi ketika aku kelas 3 SD ).

25.    Meng-copy juga pernyataan Bee : self centered. Alih-alih memakai kata ganti ‘saya’ atau ‘kami’, aku memakai kata ganti ‘aku’.

De Javu…

•March 15, 2009 • Leave a Comment

De Javu…

Tujuh Maret. Masih dengan setting tempat yang sama. Sedikit gerah di sisi Timur Monas. Peron empat penuh sampai tak tersisa lagi tempat untuk duduk. Aku berdiri di sisi peron menantang angin malam. Lima kilogram tergantung nyaman di punggungku. Kereta perlahan memelan disertai desis lembut. Saat penumpang berebut, aku justru mengambil kesempatan duduk di kursi stainless bangunan yang terbuka itu.

Termangu. Sedikit melankolis.

Gerbong menumbuk pelan. Aku melompat masuk bak kernet metromini. Menyisiri satu per satu kursi hingga nomor delapan.

Seorang pria di awal 30 telah mengisi tempat dudukku. Lelaki gondrong yang tengah menekuni kaca itu menoleh dan tersenyum ke arahku.

Ah, tidak. Yang ada di sana adalah seorang lelaki paruh baya dengan perut yang besar. Ramah namun pendiam. Sepertinya dia bukan tipikal penutur cerita. Wajahnya lokal tapi saat kutanya, “Pak, turun di Jogja?” ia justru mengeluarkan tiketnya dan dengan bahasa Indonesia terbata-bata ia menyuruhku memeriksa apakah tiket yang dipegangnya sudah benar dan sama dengan tiket milikku.

“Mas, itu kopernya kapan sampai Dubai?” tanpa menunggu aku langsung membuka pembicaraan.

Kursi tempatku duduk masih sama tak nyamannya. Masinis menyampaikan
sapaan kepada para penumpang. Kereta berderak dan mulai bergerak. Sepi dan sendiri…

“Oh, ini… saya pelaut. Baru saja pulang melaut dari laut merah.” Dan cerita pun merekah.

Handphone milik teman dudukku bergetar. Seorang wanita dengan suara enerjik berbicara di ujungnya. Lalu di menit-menit berikutnya dengan bahasa Perancis fasih, lelaki itu asyik berbincang. Meski koneksi sambung putus, ia tetap menekuni handphonenya hingga aku terkantuk tanpa sempat menanyakan dimana ia belajar bahasa Perancis.

“Bagi saya, yang penting kan FREEDOM !!!! bener nggak?”

“Tul!”

Aku jatuh dalam sumur mimpiku dengan memori masih mendengung-dengung. Tepat enam minggu yang lalu, seseorang telah mengubah hidupku.

***

Smiling Stars

•March 8, 2009 • Leave a Comment

“Pada malam hari kau akan memandang bintang-bintang. Bintangku terlalu kecil untuk ditunjukkan kepadamu. Tetapi lebih baik begitu. Bagimu, bintangku hanyalah salah satu dari begitu banyak bintang. Dengan begitu, kau akan senang memandang semua bintang… semua akan menjadi temanmu. Lebih-lebih lagi, aku akan memberimu hadiah.”

Dia tertawa lagi.

”Ah! Pangeran Kecil, Pangeran Kecil, betapa aku senang mendengar tawamu!”

”Justru itulah hadiahku… akan jadi seperti kita meminum air itu…”

”Apa Maksudmu?”

”Bagi setiap manusia, bintang-bintang memiliki makna berbeda-beda. Bagi orang-orang tertentu – para pengembara – bintang-bintang adalah pemandu mereka. Bagi yang lain, bintang-bintang hanyalah cahaya kecil di langit. Bagi orang lain – para ilmuwan – bintang-bintang adalah persoalan yang harus dipecahkan. Bagi pengusahaku, mereka berarti emas. Tetapi bagi semua orang ini, bintang-bintang itu diam. Sedangkan kau, kau akan memiliki bintang-bintang yang tak pernah dimiliki orang lain.”

”Apa maksudmu?”

”Pada malam hari, jika kau menengadah menatap langit, karena aku tinggal di bintang, dan karena aku akan tertawa di bintang, bagimu seakan semua bintang sedang tertawa. Hanya kau sendirilah yang akan memiliki bintang-bintang yang bisa tertawa!”

Dan dia tertawa lagi.

”Dan jika kau sudah mengatasi kesedihanmu ( kita semua bisa mengatasi kesedihan kita ), kau akan senang pernah mengenalku. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Kau akan ingin tertawa bersamaku. Dan kadang-kadang kau akan membuka jendelamu – begitu saja, karena ingin membukanya – dan teman-temanmu tercengang melihatmu tertawa ketika memandang langit. Maka kau akan berkata kepada mereka, ”ya, bintang-bintang itu selalu membuatku tertawa!”

Antoine de Saint-Exupery, Le Petit Prince

Senja

•March 3, 2009 • Leave a Comment

Sore itu, ratusan gumpal kapas awan tipis menghiasi langit pantai utara Jakarta. Di baliknya, selembar sutra oranye muda terbentang membentuk kubah raksasa di angkasa. Cerah. Sebentar lagi senja pasti akan tampak sangat indah. Beberapa ekor burung sesekali melintas membentuk formasi.  Berkoak pelan di tengah kesunyian dan kekosongan nun jauh di sana.

Setitik benda melayang dari arah Soekarno-Hatta. Mendesis pelan jika didengar dari tempatku menyimak. Sayapnya terkembang kaku memandu tubuhnya yang panjang seperti pensil. Ia terbang menuju entah. Ke arah Barat sedikit Utara kiranya.

Angin pantai mendayu pelan menggoyangkan ujung jilbabku. Pesawat melintas di atas wilayah ini sudah ratusan kali kutemui. Namun baru kali ini ia begitu dahsyat membangkitkan rindu. Harusnya dari dulu kusadari bahwa seorang petualang sejati tidak akan pernah bisa berhenti. Ia akan selalu haus akan aroma laut dan desiran lembut udara kebebasan yang meniup deknya. Dan yang pasti hidup di kenyataan tidak sesederhana film-film drama percintaan. Dipertemukan oleh nasib, berkenalan, jatuh cinta, lalu hidup bahagia selamanya. Heh, rasanya ingin menonjok muka sendiri.

Mas, tanggal 9 Maret long weekend loh… di Jogja ada Grebeg. Jadi kamu bisa benar-benar merasakan pulang ke Indonesia.

Wah, tanggal segitu saya sudah berlayar lagi, Din!

Sekotak kenangan itu sepertinya harus rela kularung bersama angin. Ia hanyalah titisan Tuhan yang didatangkan untuk menyampaikan satu pesan. Tugas telah diluluskan. Jatahku telah diserahkan dan aku tidak memiliki hak untuk menuntut kelebihan. Sorot mata yang hangat itu suatu saat mungkin akan kembali dicabut Tuhan dari memoriku. Hingga yang tersisa tinggal pelajaran tentang keberanian yang entah siapa telah menyampaikan. Dan suatu hari ketika aku membuka dompetku, menemukan selembar mata uang Rusia bergambar bendungan di satu sisi dan jembatan di sisi lainnya, aku akan bertanya-tanya. Bagaimana aku bisa memiliki benda ini?

Pesawat melayang menuju Barat Laut menyongsong senja. Formasi burung kembali melintas syahdu melepas kepergiannya. Satu potong kenangan terakhir agaknya masih terdampar bersama warna merah angkasa.

Din, dua bulan lagi saya akan berlayar di Thailand…

Become Train Lover

•February 28, 2009 • 1 Comment

25 Mei, perjalanan ke Bandung. Masih subuh-subuh, berembun, tapi ngos-ngosan mengejar kereta. Akhirnya sampai juga di Gambir 5 menit sebelum kereta pergi. Udara di luar jendela kereta masih berkabut ketika argo gedhe melaju meninggalkan gambir, 06.15 am.

Boni langsung terkantuk-kantuk dan tertidur pulas di sampingku, membalas dendam jam tidurnya yang dengan kejam terampas. Sementara MP3 terus mengalunkan lagu2 jazz, aku mengamati melewati kaca, pepohonan dan rumah-rumah tempel yang berlari meninggalkan kami.

Kalau ditanya hal apa saja yang membuatku bahagia, ini adalah salah satunya : naik kereta ketika hari baru saja akan dibuka. Ketika kabut masih menggantung di ujung daun padi yang belum siap panen, ketika aku melaju dengan cepat hingga seolah waktu di luar jendela terhenti dan semua orang membeku, ketika aku berada di kereta dan semua orang yang berada di jalan berhenti untuk mempersilakanku lewat, ketika kereta yang melaju cepat memfasilitasi aku untuk melihat banyak sekali hal dalam waktu singkat.

Hal yang bisa membuatku bahagia adalah  naik kereta yang membelah perbukitan, terbang di atas jurang dengan air terjun di bawah ketika jembatannya tidak bisa kulihat, melewati tanah yang melereng yang ditumbuhi bunga-bunga liar yang familiar tapi sampai sekarang aku tidak tahu namanya, dan ketika kereta melewati tikungan hingga aku bisa melihat lokomotif yang memandu kami menuju kota tujuan.

Hal yang bisa membuatku bahagia adalah norah jones dari mp3nya boni yang mewujudkan imajiku ketika rel membelah ladang ilalang yang menunjuk-nunjuk jenaka namun syahdu seolah merindukan langit, ketika rel genit melenggang di ujung bibir jurang menyapa pucuk pohon flamboyan yang manis namun rendah hati, juga menengadahkan tangannya ke bulan yang samar di kejauhan, ketika kereta keluar dari terowongan yang menyusup bukit dan ribuan candela cahaya menyerbu pupil setelah gelap sesaat.

Hal yang bisa membuatku bahagia adalah menemui hal-hal yang mengingatkanku pada peristiwa yang membuatku bahagia. Rubah milik pangeran kecil bilang : agar lebih romantis lagi, ada baiknya kita tidak hanya melakukan ritual dan janji, tapi juga mengidentikkan seseorang atau sesuatu yang kita sayangi dengan hal lainnya. Misalnya rambutmu yang keemasan. Sehingga aku bisa melihat dirimu ketika aku menemui ladang jagung yang memiliki rambut keemasan juga. Maka, aku tidak hanya melihat satu dirimu melainkan seladang penuh dirimu…

Maka ketika aku melihat ladang ilalang itu, atau sawah yang berkabut itu, atau langit yang cerah namun sepi itu, atau pepohonan yang menengadah ke langit itu, atau segala sesuatu yang bergerak lambat di luar jendela itu, aku melihat berjuta dirimu di sana. Dan aku tidak kesepian lagi.

Tanpa sadar aku jadi penyuka kereta setelah pesawat…

Ps. Thanks so much for Bonnie n Dee……

Pemanah Bintang

•February 24, 2009 • Leave a Comment

Red square membiru oleh salju. Di ujungnya, bangunan peninggalan Tsar Rusia yang melegenda itu berdiri sendu tertutup debu kabut yang membeku. Pohon-pohon evergreen diselimuti kristal-kristal putih. Orang-orang dengan jas berbulu rusa melintas di plaza.

Red square mengingatkanku pada seorang asing yang pernah menjadi inspirasi. Kedatangannya seperti mimpi. Sesaat, meninggalkan kesan mendalam, lalu pergi dan tidak dapat dijangkau lagi.

Bagiku, lelaki itu adalah pemanah bintang. Datang dari tempat yang jauh, berkeliling dunia, sedikit demi sedikit mengumpulkan cap di paspornya, hingga lembar demi lembar penuh dan tak tersisa lagi tempat untuk negara baru. Sang pemanah bintang berjuang gagah berani menantang maut membelah samudera, memanah konstelasi di angkasa, menyisir dunia dari dermaga ke dermaga, mempelajari tiap bangsa yang ditemuinya dari bahasanya yang berbeda-beda. Kehadirannya mengundang karisma saat kapalnya memelan ketika memasuki kota-kota yang menyambutnya dengan bangunan-bangunan megah yang hanya bisa kutemui lewat mimpi. Kota perak dan emas dimana Tuhan kiranya telah memutuskan untuk menciptakan firdaus di bumi.

Suatu hari, kesalahan petugas administrasi mempertemukan lelaki pemanah bintang itu denganku. Seorang manusia darat yang hanya bisa menatap cakrawala dari pantai yang sunyi. Menduga-duga apa kiranya titik hitam di kaki mentari yang tertelan samudra di penghujung hari. Ia lalu meminjamkan sayapnya padaku. Membawaku ke tempat-tempat yang tak bisa kujangkau sebelumnya. Mengajariku untuk tetap berani, berjuang melawan sugesti, bahwa kakiku yang tak bersayap tak bisa membawaku lebih jauh lagi.

Bagiku ia adalah inspirasi. Dengannya, Burj Al Arab terasa dekat, London Bridge dapat dijangkau, kanal-kanal Venezia tinggal tetangga, Srilanka hanya satu bidikan, dan Red Square di Rusia tak lagi hanya jadi cerita menghantar mimpi. Selama kita tetap berani.

Lalu secepat ia datang, secepat itu pula ia menghilang. Di pagi itu, saat mentari belum sempat mengawali hari, ia pergi.

Dan secepat ia berlalu, secepat itu pula ia menyihirku. Aku, manusia darat yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba melebur menjadi angin. Melayang melintasi dimensi dan tidak ingat bagaimana mendarat lagi.

Lelaki pemanah konstelasi itu mungkin tetangga rumahku sendiri. Tapi aku tidak tahu dimana bisa kutemui. Ah, mungkin aku memang tidak perlu menemuinya lagi. Karena dua kata itu sebenarnya sudah cukup bagiku. Dua kata yang ingin disampaikan Tuhan dengan cara yang menakjubkan. Maka setiap kali aku surut, atau setiap kali aku berdiri di ujung pantai, memandangi bangunan yang terkembang bagai layar di kejauhan atau titik hitam di ujung cakrawala, aku selalu ingat dengan kata-kata lelaki pemanah bintang itu : TETAPLAH BERANI.

•February 20, 2009 • 4 Comments

Malam menjulurkan jubahnya yang pekat. Manusia meringkuk di sudut yang terelus cahaya temaram, kelam. Beberapa membiarkan cengkraman tangan malam menyapu wajahnya, membelai badan yang telah lelah, dan membiarkan kamar dalam kekuasaan ratu kegelapan. Mata terpejam dan dalam bilangan menit jiwa sudah melayang ke dunia mimpi, pasrah dalam titipan Sang Maha Pemilik Jiwa.

Di penghujung malam ini seorang pengendara keluar dari kandangnya, melaju di atas dua lingkaran yang berguling kencang. Suara motornya mendesah lembut, menyapa siluet pohon yang terheran-heran. Apa yang dilakukan seorang gadis perantauan di ibu kota di malam sepekat ini, melaju di atas tunggangannya, menembus surai-surai malam tanpa mempedulikan hal-hal buruk yang bisa dialaminya di jalan. Mengapa dia tidak berlindung saja di kamarnya yang sejuk sambil menunggu masker di mukanya bereaksi?

Tapi si pengendara motor itu tahu. Malam yang kaku tak akan membuatnya meleleh. Surai-surainya yang pekat tak akan menghentikan langkahnya. Dan yang pasti ia sadar betul bahwa kejahatan makhluk lain bisa jadi membawanya dalam kesulitan malam ini. Namun matanya yang meski minus parah menatap awas menembus cahaya kendaraan lain, kadang silau. Dengan penuh tanggung jawab ia mengajak dirinya berkelana, mencari entah.

Ayah, katanya lirih dalam hati. Di sinilah anak gadismu berada. Beratus kilo dari kehangatan rumah. Berkelana sendiri menantang malam di jalanan Jakarta.

Roda motor berpusar menuju blokM.

Ayah, katanya lagi. Apakah kau bangga memiliki anak seperti ini? Apakah aku cukup membuatmu ingin berkata pada semua orang, berkata bahwa ini anakmu yang sudah melakukan banyak hal mengagumkan? Apakah kau tengah merindukanku malam ini?

Ia membayangkan sosok ayahnya yang biasanya hanya mengangguk-angguk sambil serius membaca koran. Ayah jarang berkomentar. Biasanya ia hanya tersenyum sambil menggosok-gosok kepala si gadis, mengacak-acak rambutnya. Gestur seperti itu bisa berarti ‘ayah sayang kamu’, atau ‘kamu anak ayah yang keren’, atau ‘rambut kamu perlu dicuci tuh’. Dan si gadis biasanya hanya balas tersenyum bandel. Seolah ia mengerti apa yang hendak dan telah dikatakan sang ayah. Seolah ada percakapan yang tidak bisa didengar oleh orang lain antara mereka berdua.

Motor melewati bundaran HI. Setitik hujan menumbuk. Kemudian setitik lagi. Disusul butiran berikutnya. Pecah di punggung tangan si gadis yang kuat mencengkeram setang. Dalam bilangan menit, senada dengan detik-detik yang berlalu, pecahan-pecahan itu telah meleleh di kaca helm, motor, ban, dan kullitnya. Jenaka menciptakan simfoni yang tak terdengar. Frekuensinya makin bertambah. Musik semakin riuh, ritmenya cepat. Dari swing menjadi march, lalu semakin, semakin cepat menghentak. Butirannya besar dan menumbuk tanpa ampun menyerbu kulit, menantang aspal yang keras. Butiran air berubah menjadi peluru. Pecahannya yang berhamburan ke segala arah menciptakan kabut putih di atas jalan. Hujan yang tadinya romantis kini jadi mengancam, membutakan mata yang telah rabun.

Dalam selimut jubah biru tua, si gadis tetap menantang. Membelah angin dan peluru air.

Ayah, bukankan Tuhan menyuruh kita untuk melakukan perjalanan di muka bumi…. Maka karena doamu-lah aku tak pernah menyerah, aku tak ingin kalah.

Hujan makin menyerbu, riuh, jahat.

Ayah, mohon doamu…

Jakarta meleleh. Sudirman basah tergenang, namun tetap gagah oleh dimensi ruang yang monumental. Satu jam kemudian, si gadis telah berada dalam ruangan miliknya yang lembap namun terlindung. Meneguk vitazone oranye sambil melirik jam duduknya.

Jam dua belas malam.

Ia hanya tersenyum menertawai dirinya sendiri sambil melemparkan jaket basahnya ke keranjang baju kotor.

Jakarta, 26 Oktober 2008 dini hari
Sesaat setelah pulang dari kost Sandya
Miss u so much, Dad…

8 hours, Part 4 : the foggy platform

•February 7, 2009 • 4 Comments

Pukul setengah 5 petugas kereta kembali datang meminta selimut. AC central Taksaka berhembus menusuk-nusuk jaketku, menembus kulit ari dan membuatku tidak bisa tidur lagi.

“Enak banget tidurnya.” Ia membuka pembicaraan.

“Nggak juga.. baru bisa tidur enak sejak jam 2.”

Dia agak terkesiap mendengarnya.

“Hmm….. kacau… semalem malah nggak bisa tidur pula…“ gumamnya tidak jelas lalu merogoh isi ranselnya.

“Ini buku standar keselamatan pelayaran. Orang bule itu, mereka kalo udah bilang A ya harus dilaksanakan. Nggak peduli kondisinya kaya apa. Tapi, meski resiko tinggi kerja kita juga punya standar keselamatan,” katanya. Aku menerima sebuah buku berisi CD yang diserahkannya, masih tidak jelas dengan arah pembicaraannya. Kubuka lembar demi lembar dengan ogah-ogahan tanpa membaca isinya hanya demi membuatnya senang. Dengan semangat ia menunjukkan gambar perahu dan tambang lepas pantai yang menjadi kantornya.

Lalu, pagi itu aku mengawali hari dengan mendengarkan cerita tentang musim Barat dan beberapa musim badai yang harus dihindari. Tentang jalur pelayaran langsung dari Sabang menuju Srilanka melewati Samudera Hindia. Tentang apa saja yang harus dihadapi seorang pelaut selama bekerja. Tentang kapal chemical yang tidak cocok untuknya yang perokok berat. Tentang nama-nama kapal di perusahaannya dan nama kapal yang dipimpinnya. Tentang para perempuan tangguh yang bekerja di pertambangan. Aku mendengarkan dengan sabar, menikmati setiap detik yang direnggut dari kami ketika kereta makin mendekati Jogja. Cerita makin meluas ke game favoritnya, keponakannya, tentangku, rumahku, rumahnya, dan apa saja yang dilakukannya jika sedang libur. Seorang diri.

Langit mulai membiru. Siluet yang suram makin menampakkan wajah aslinya, membuka tabir sunrise nan romantis. Sawah-sawah Sentolo berlari meninggalkan kami. Disusul deretan genteng rumah-rumah petak. Dan akhirnya jalan aspal kuncen melintang di bawah rel. Kereta makin pelan, berjalan anggun sedikit sombong di antara gerbong-gerbong barang rongsokan, dan akhirnya berhenti. Pasukan berani mati sudah meloncat sedari tadi.

Ia menghela napas.

“Akhirnya sampai Jogja,” katanya tanpa menoleh ke arahku. “Wah, koper saya ada banyak tuh. Bakalan keluar paling akhir…”

Aku terdiam. Bingung mencari alasan yang bisa membuatku tetap tinggal di kursi itu lebih lama. Tapi aku tidak menemukannya. Akhirnya dengan senyum sedikit dipaksakan aku pun menoleh ke arahnya.

“Mas, saya harus duluan…”

“Sampai ketemu lagi… sampai ketemu lagi…” sahutnya sebelum aku menyelesaikan kalimatku. Sekilas kucuri ekspresi pasrahnya. Entah berapa kali ia harus mengucapkan itu pada orang-orang asing yang datang dan pergi dalam hidupnya.

“Semoga bisa ketemu lagi. Minggu pagi di UGM rame kok mas, lumayan buat ganti suasana. Tapi yah… dagangan mahasiswa…” kataku menjawab pertanyaannya. Ia hanya tersenyum.

“ Terima kasih ceritanya,” kataku sambil mengulurkan tangan untuk menjabatnya.

Setelah menjabat tangannya aku pun beranjak dari kursi dan berbalik ke pintu di belakangku. Samar terdengar suaranya memberi instruksi kepada porter.

Stasiun Tugu masih diselimuti kabut.  Aku berjalan sendirian melintasi peron, pintu penjaga karcis, hall tinggi itu, lalu pintu lengkung yang menyambut langit biru berkabut nan syahdu. Meninggalkan kisah 8 jam di belakangku, yang tanpa kusadari terus menoreh rindu.

Jogja dingin, berkabut, dan sendu.

***

AC central Taksaka berhembus menembus selimut tipisku. Kereta berderak membawaku kembali ke rutinitas ibu kota. Orang-orang masih terlelap. 2 hari berlalu sejak aku menemukan label di kopernya. Wajahnya pun kian memudar. Namun sorot mata yang hangat dan ramah itu terus berbekas, sejelas kisah-kisah pengobar semangatnya.

Aku tertawa dalam hati, menertawakan kebodohanku. Aku bahkan tidak tahu nama lengkap lelaki 8 jam itu…

Mungkin aku harus melintasi Samudera Hindia hingga dataran Srilanka, menyisir demaga-dermaga Afrika dan Eropa, hingga sampai di perairan Rusia. Hanya untuk bisa duduk dengannya lagi…

***
You…
Soft and only
You…
Lost and lonely
You…
Strange as angels
Dancing in the deepest oceans
Twisting in the water
You’re just like a dream
You’re just like a dream

( Katie Melua, Just Like Heaven )

For eight hours man, wherever you are, thanks for giving me heaven that night…

~fin~

8 hours, Part 3 : … and the night falls…

•February 7, 2009 • Leave a Comment

Kereta berderak mendesis-desis. Gerbong 3 hening. Semua orang terlelap kecuali di kursi nomor 4. Kasihan juga penumpang nomor 3 yang sudah simbah-simbah. Sepertinya sedari tadi terus gusar karena keributan kami.

“Wah Din, nggak terasa sudah jam 11 malem, ya! Saya masih bingung dengan zona waktunya. Kalau dengan sana diitung-itung jarak zona waktunya 3 jam. Berarti harusnya sekarang jam 7 malem, waktu makan malam saya. Kamu laper nggak? Mau saya traktir?”

“Wah mas, saya tadi sudah makan sebelum berangkat. Tadi nggak bilang-bilang sih kalo mau nraktir. Kalo tadi bilang mau nraktir, saya tadi nggak maaaakaaaan,” jawabku spontan.

“Wah, dasar nih anak… dari tadi adaaaaa saja jawabannya,” katanya sambil menunjuk-nunjuk. “Bagus lah kalau gitu. Itu berarti kamu anak bergizi baik.”

“Siiial, ngece tenaaan… kan udah keliatan dari luarnya, mas…” jawabku spontan lagi.

“Hahaha… bukan begitu… kalo anak bergizi baik tuh banyak omong.. kalo dieeeeem aja tu malah dipertanyakan ni anak ngantuk apa nggak dong.”

Hahahahahahahahahahahahaha…………….

“Beneran, ni, nggak mau nemenin saya makan? Mumpung saya baru mau nraktir, loh!”

“Enggak, saya udah makan tadi.”

“Nggak mau ditraktir?”

Aku menggelengkan kepala.

“No thank’s?”

“No thank’s.”

“Ok, kalau begitu saya makan dulu,” katanya penuh semangat sambil memeluk ransel keramatnya. Aku memberi ruang sirkulasi agar ia bisa lewat menuju gerbang restorasi yang berada persis di belakang gerbong kami.

Suasana tiba-tiba menjadi hening dan kosong begitu ia pergi. Hatiku berkibar. Meskipun di banyak perjalanan sebelumnya aku sudah berkenalan dan mengobrol panjang dengan orang-orang baru, sesama arsitek, atlet, pengusaha MLM, insinyur tambang, pegawai kantoran, guru, tapi baru kali ini aku berkenalan dengan seorang pelaut, kapten pula. Keren pula. Jomblo pula. Baru nyari calon istri pula. And he’ll come back soon. Right beside me! Dan masih 5 setengah jam lagi sebelum kereta ini sampai Jogja. Maka aku berdoa agar kereta ini macet, atau harus mengambil rute membelok dulu ke Semarang dan baru sehari lagi sampai Jogja, atau stasiun Tugu dipindah ke ujung Timur pulau Jawa….

Hening di gerbong 3 terdengar semakin keras. Tubuhku letih tapi aku tidak bisa memejamkan mata. Seperti biasa sindrom seperti ini kuobati dengan beranjak dari kursi dan berdiri melamun sendirian di depan pintu WC sambil mengamati pemandangan yang berlari meninggalkan kereta. Mungkin kalau aku terlahir sebagai seorang laki-laki, saat itu aku sudah mengeluarkan rokok dan semalaman aku akan berdiri di sana menghabiskan satu pak djarum super sampai kereta tiba di tempat tujuan. Untung aku terlahir sebagai seorang perempuan.

Ketika tiba di sambungan gerbong sekilas aku melihat teman dudukku sedang asyik mengobrol dengan seorang bapak-bapak sambil menghisap rokok. Dia melirikku dan melambai ke arahku sambil tersenyum. Aku tertawa dalam hati. Yah… mungkin kalau aku terlahir sebagai seorang laki-laki, saat ini aku sudah seperti dia : berambut gondrong dan perokok berat.

Aku berdiri selama beberapa saat di depan pintu WC, bersandar di dinding hijau Taksaka sambil memasukkan telapak tanganku yang kedinginan ke dalam saku jeans, hanya memandangi lampu-lampu yang remang-remang melesat tertinggal di belakang, dalam bisu. Pemandangan ini sudah belasan kali kualami sejak setengah tahun aku hijrah ke Ibu Kota.

Mungkin pertemuanku kali ini dengan seorang pelaut edan seperti dia sudah direncanakan olehNya jauh sebelum aku hijrah ke Jakarta 8 bulan lalu. Mungkin malam ini memang sudah diskenariokan, agar aku sadar bahwa hidup itu cuma sekali. Dan hidup yang cuma sekali itu nggak lama. Maka apa yang kita sukai harus dilakukan sekarang. Yang pengen kita kejar harus dikejar mulai dari sekarang.

Lama aku terdiam sendiri. Di luar, pemandangan nggak pernah berganti. Remang-remang temaram. Aku menghela napas panjang. Kembali ke kursiku dan mengambil sebuah buku dari dalam tas, mulai membaca untuk membangkitkan rasa kantuk.

Aku sudah melewati beberapa judul ketika lelaki itu berdiri lagi di sampingku.

“Weiiiiits…… mbacaaa……” katanya masih dengan semangat 45.

“Iya mas. Mau tidur nggak ngantuk-ngantuk,” kataku ogah-ogahan, mulai mengantuk. Ia membuka tabloid bolanya, membuka-bukanya sebentar, sesekali melirik ke arahku. Namun begitu tau aku tidak ingin diganggu ia melipat kembali bolanya dan merebahkan punggung di sandarannya. Baru beberapa saat kelopak mataku sudah berat. Aku langsung menyelipkan bukuku di kantung di depannya dan merebahkan punggung dalam diam. Menutup mata dan langsung masuk ke alam antara sadar dan tidak.

Dalam gelap aku masih bisa merasakan derak kereta, suara pegawai kereta yang berlalu-lalang, suara dari kursi di sebelahku yang berkali-kali membenarkan posisi duduknya, bukuku yang terjatuh, suara bukuku yang diambil, suara srak-srak ketika kertasnya dibolak-balik, lalu kembali suaranya membenarkan posisi duduknya. Lalu aku terlelap… Entah sudah berapa lama aku terlelap, kembali aku merasakan derak kereta, berat dan hangat di bahu kiriku, seolah ada seseorang yang sedang bersandar di sana, dan aku terlelap lagi. Ketika untuk ke sekian kalinya aku tersadar dari tidur-tidur ayamku, ia sudah tidak ada di kursinya, hanya tas keramatnya saja yang disandarkan di sana. Dan kembali terbangun dari tidur ayamku lagi ketika kurasakan ada seseorang menyeberangi kakiku yang terjulur dan duduk di kursinya. Sesekali ketika aku membuka mata, kudapati ia tengah bertumpu pada sikunya, seolah meratapi bukuku yang terselip di depannya.

Jam tanganku menunjukkan pukul 4 pagi ketika aku benar-benar terbangun oleh pegawai kereta yang membawakan teh manis hangat. Teman dudukku telah jauh tertidur sehingga sebenarnya aku sedikit kasihan untuk membangunkannya. Namun akhirnya kusiku juga ia hingga terbangun. Setelah menerima cangkir hijau itu, ia tetap memeganginya sambil memejamkan mata dan akhirnya terlelap lagi, masih dengan memegang secangkir penuh teh panas. Dasar pelaut.