Pemanah Bintang
Red square membiru oleh salju. Di ujungnya, bangunan peninggalan Tsar Rusia yang melegenda itu berdiri sendu tertutup debu kabut yang membeku. Pohon-pohon evergreen diselimuti kristal-kristal putih. Orang-orang dengan jas berbulu rusa melintas di plaza.
Red square mengingatkanku pada seorang asing yang pernah menjadi inspirasi. Kedatangannya seperti mimpi. Sesaat, meninggalkan kesan mendalam, lalu pergi dan tidak dapat dijangkau lagi.
Bagiku, lelaki itu adalah pemanah bintang. Datang dari tempat yang jauh, berkeliling dunia, sedikit demi sedikit mengumpulkan cap di paspornya, hingga lembar demi lembar penuh dan tak tersisa lagi tempat untuk negara baru. Sang pemanah bintang berjuang gagah berani menantang maut membelah samudera, memanah konstelasi di angkasa, menyisir dunia dari dermaga ke dermaga, mempelajari tiap bangsa yang ditemuinya dari bahasanya yang berbeda-beda. Kehadirannya mengundang karisma saat kapalnya memelan ketika memasuki kota-kota yang menyambutnya dengan bangunan-bangunan megah yang hanya bisa kutemui lewat mimpi. Kota perak dan emas dimana Tuhan kiranya telah memutuskan untuk menciptakan firdaus di bumi.
Suatu hari, kesalahan petugas administrasi mempertemukan lelaki pemanah bintang itu denganku. Seorang manusia darat yang hanya bisa menatap cakrawala dari pantai yang sunyi. Menduga-duga apa kiranya titik hitam di kaki mentari yang tertelan samudra di penghujung hari. Ia lalu meminjamkan sayapnya padaku. Membawaku ke tempat-tempat yang tak bisa kujangkau sebelumnya. Mengajariku untuk tetap berani, berjuang melawan sugesti, bahwa kakiku yang tak bersayap tak bisa membawaku lebih jauh lagi.
Bagiku ia adalah inspirasi. Dengannya, Burj Al Arab terasa dekat, London Bridge dapat dijangkau, kanal-kanal Venezia tinggal tetangga, Srilanka hanya satu bidikan, dan Red Square di Rusia tak lagi hanya jadi cerita menghantar mimpi. Selama kita tetap berani.
Lalu secepat ia datang, secepat itu pula ia menghilang. Di pagi itu, saat mentari belum sempat mengawali hari, ia pergi.
Dan secepat ia berlalu, secepat itu pula ia menyihirku. Aku, manusia darat yang tidak tahu apa-apa, tiba-tiba melebur menjadi angin. Melayang melintasi dimensi dan tidak ingat bagaimana mendarat lagi.
Lelaki pemanah konstelasi itu mungkin tetangga rumahku sendiri. Tapi aku tidak tahu dimana bisa kutemui. Ah, mungkin aku memang tidak perlu menemuinya lagi. Karena dua kata itu sebenarnya sudah cukup bagiku. Dua kata yang ingin disampaikan Tuhan dengan cara yang menakjubkan. Maka setiap kali aku surut, atau setiap kali aku berdiri di ujung pantai, memandangi bangunan yang terkembang bagai layar di kejauhan atau titik hitam di ujung cakrawala, aku selalu ingat dengan kata-kata lelaki pemanah bintang itu : TETAPLAH BERANI.
