Yogyakarta

•April 4, 2012 • Leave a Comment

coming home to your town
I’m caught by the stir of my longing
still the same as before
every corner is a friendly greeting
fully satiated with meaning
lost in the sensation of nostalgia
of the moments when we were spending time
and enjoying Jogja’s ambience together

at the intersection my step stand still
bustling portable food stands
pedding various delectable cuisines
people sit cross-legged
and street musicians begin to play
in rhythm with my sorrow of losing you
alone in my moans
engulfed by your city’s roar

although now you’re no longer here
and will never come back
please allow me to always return
if the heart embarks on loneliness with no comfort

and street musicians begin to play
in rhythm with my sorrow of losing you
alone in my moans
engulfed by your city’s roar

although now you’re no longer here
and will never come back
please allow me to always return
if the heart embarks on loneliness with no comfort

Yogyakarta – KLA

Lake house

•March 29, 2012 • Leave a Comment

Baca tulisan nadya tentang beberapa film favorit rasanya aku juga jadi pengen cerita tentang salah satu film yang berulang kali kuputar dan aku ga bosen : Lake House.

 

Film lama, jaman aku kuliah film ini menjadi bahan ece2nan anak arsitek gara2 beberapa nama arsitek terkenal semacam Frank Loyd Wright dan Richard Meier sempat disebutkan jadi temennya si pemeran utama… ahahahaha…. . Koya bangeeet…. (Ehmmm…. Kebanyakan anak arsitek punya selebriti sendiri yang biasanya ngetop di kalangan arsitek dan karyanya cukup monumental. Selain wright dan meier coba lihat norman foster (uugghh… aku ngefans banget sama kakek yang satu ini beserta konsep-konsep desainnya), tadao ando, rehm koolhass, zaha hadid, Le corbu… Yaaah itu semacam para pelukis yang punya selebriti sendiri macam monet, van gogh, da vinci, salvadori dali, atau para penulis yang juga punya selebriti seperti hemingway, mark twain, fitzgerald, conan doyle, dsb ). Setelah nonton yang ke beberapa kalinya ternyata film ini cukup dalem. Bukan gara2 yang main Keanu Reeves n Sandra Bullock dan romancenya yang lumayan :p. Tapi jadi sadar bahwa yang bikin arsitek tetep hidup (bukan dari segi financial (walaupun duit juga penting)) salah satunya karena idealisme, satu kata yang sebenernya aku sedikit anti pati. Dalam imageku, seorang arsitek yang idealis itu pasti banyak omong, banyak teori, terlalu banyak berpuisi, nggak praktis, padahal yang namanya orang teknik itu (menurutku) mustinya sedikit ngomong tapi banyak berkarya. Lama kelamaan setelah nonton film2 macam lake house, angels and demons, when in rome, click, dan midnight in paris, aku jadi merasa beruntung pernah belajar arsitek sehingga aku bisa nggambleh panjang lebar tentang suatu karya dilihat dari sudut pandang seni, sejarah, dan teknik. Suatu hal yang nggak semua orang bisa melakukannya (wkwkwkwk….. nyombong niy)

 

Ok back to lake house, ceritanya pasti yaya’s sudah pada tau… Tentang kisah cinta accidently antara Sandra bullock sama Keanu reeves yang terpisah oleh waktu. Mereka cuma bisa ketemu chatting lewat surat-surat yang secara ajaib dikirim melintasi waktu melalui kotak surat yang ada di depan lake house yang konon merupakan rumah rancangan ayahnya si Keanu yang juga arsitek. Lewat surat-surat itu mereka berdua saling bertukar galau. Si cowok galau karena bapaknya pengen dia jadi arsitek besar nan idealis macam frank loyd atau Richard meier. Padahal si cowok ini lebih seneng jadi kontraktor perumahan rakyat. Si cewek yang seorang dokter galau karena sebagai dokter dia merasa gagal menyelamatkan seseorang yang kecelakaan di depan matanya ( yang ternyata itu adalah si cowok di masa depan ) yang akhirnya meninggal.

 

Yep, the love story was so touching, tapi aku sedang nggak pengen bahas love story mewek atau smacam long distance relationship yang nggak jelas. Akhirnya setelah sepeninggal ayahnya dan memutuskan untuk mengakhiri LDRnya, si cowok mulai membangun hidupnya. Dia berhenti jadi kontraktor dan berusaha mewujudkan cita-cita keluarganya untuk mendirikan suatu biro arsitek. Dua tahun kemudian biro arsitek yang didirikan bersama adiknya sudah menjadi perusahaan yang cukup bonafit. Aku seneng banget denger caranya si Sandra bullock ngasih masukan buat renovasi apartemennya : tambah unsur kayu di puncak, tambahkan garis horizontal dan shading, dsb. Sooo….. architect. Ohya… di film itu juga ada tour sejarah arsitek yang sangat menyenangkan 😀

 

Image

Lake housenya keanu

 

Image

peta wisata sejarah arsitektur

 

Lake house adalah salah satu tipe rumah favoritku, biasanya punya deck untuk menambatkan perahu, teras yang cukup luas untuk duduk di luar sambil menikmati pemandangan danau, umumnya memiliki bukaan yang lebar atau (di lake house-nya Keanu) bahkan seluruh dindingnya terbuat dari kaca (kecuali bathroom tentunya). Rumah macam ini nggak melulu buat tinggal. Ada satu lake house favoritku yang hanya difungsikan buat site seeing. Bahkan dia hanya punya satu ruang sebesar container, yang isinya hanya satu bangku panjang di satu sisi yang menghadap sebidang dinding. La… dinding itu juga hanya punya satu bukaan kecil lebih mirip jendela sempit horizontal yang mengarahkan orang untuk melihat satu view saja yaitu view istimewa danau. Meskipun terkesan seperti mendikte penggunanya untuk hanya melihat satu bidang sempit danau (bukannya menikmati pemandangan danau yang luas dan hutan-hutan di sekelilingnya dan memasukkan alam ke dalam ruangan seperti halnya konsep lake house kabanyakan) ternyata cara itu menimbulkan efek yang cukup dramatis. Si arsitek seolah ingin membagi pengalamannya bikin foto stich dari titik itu yang merupakan titik pemandangan paling istimewa di sekeliling danau. Dan dia melakukannya dengan sangat bagus (sayang aku lupa ngesave gambarnya dulu). Tapi, dengan ruangan yang hanya sebesar container dan bukaan yang kecil (yang posisinya tepat segaris dengan mata orang berdiri) mungkin kalo berada di Indonesia lake house macam ini sudah jadi wc umum atau tempat mesum.

 

Tetap saja aku nggak punya keinginan punya rumah di pinggir danau. U know… lembap, banyak ular, nyamuk, dan tom cat :p. 

yang akhirnya kebangun….

•May 2, 2009 • 1 Comment

”Menjadi inspirasi, itulah salah satu tugas kita sebagai arsitek” kata bosku malam itu, setelah salah seorang klien baru kami pulang dengan membawa sebuah surat kontrak proyek.

Malam itu adalah ujung sekaligus awal dari perjuangan bermalam-malam kami menyiapkan usulan rancangan sebuah rumah tinggal di jalan masuk utama boulevard Mediterania Pantai Indah Kapuk. Sebelum dibangun pun rancangan rumah mewah hasil diskusi antara Pak Deny, aku, serta Eko itu sudah membuat banyak orang terpesona. Bahkan ketika rancangan itu belum selesai tergambar di layar monitorku, ia sudah membuat banyak orang berhenti di mejaku dan mengaguminya. Aku yang menggambar pun mengaguminya. Setengah tak percaya ada salah satu orang kaya di Pantai Indah Kapuk ini berniat membangunnya bukan untuk meninggalinya tapi sekedar menjadikannya sebagai cara menabung properti.

Satu minggu lebih aku dan eko membuat gambarnya dan Pak Deny merancang RABnya. Lembur sampai malam selama satu minggu, sempat diuji dengan virus sality dan beberapa kali membuat aku dan Eko perang saudara. Malam minggu yang harusnya menyenangkan terusik oleh pekerjaan yang nggak kunjung selesai. Tapi malam minggu itu kami berhasil menyelesaikan 3 rancangan dengan berbagai versi RAB. Selanjutnya tinggal masalah presentasi dan kekuatan doa. Cieee……

Senin pagi ternyata kontrak belum ditandatangai. Komputer kembali rewel, sedangkan sore harinya si pemilik rumah akan datang lagi ke studio untuk menawar RAB yang masih berada di atas angka 4m. Singkat cerita senin malam akhirnya kontrak sudah ada di tangan. Bahkan sebelumnya kami sudah menunjuk siapa yang akan memimpin pembangunan rumah mewah itu. Pembangunan akan dilaksanakan secepatnya.

Senyum belum juga hilang ketika motorku memasuki kebon jeruk.

Tahukan kalian yang paling menyenangkan dari semua ini sebagai seorang arsitek? Bukan hanya perasaan dihargai idemu diterima dan direalisasikan. Tapi, setiap garis yang kau buat, setiap perhitungan yang kaupikirkan, setiap gambaran tiga dimensi struktur yang kaudiskusikan, akan menciptakan dan menyambung kehidupan banyak orang. Berawal dari garis pertama yang kau buat itu, nantinya akan ada banyak pekerjaan-pekerjaan yang menyusul. Bowplank dan patok ditancapkan, pondasi dipancangkan, orang-orang proyek melepas lelah di warung pojokan yang dibuat dadakan, pompa adukan beton kembali berputar, besi-besi tulangan diturunkan dari truk, dan banyak lagi pekerjaan di lapangan, sampai preman-preman datang meminta bagian. Bagiku, gambar denah dan tampak itu akan menuntut gambar-gambar lainnya. Studio akan ramai dengan orang yang mendiskusikan struktur, tawar menawar harga, dan teriakan Pak Deny yang menyuruhku dan Eko segera menyelesaikan gambarnya. Kami akan sibuk dikejar gambar struktur, plumbing, listrik, dan detail-detail gambar klasik yang bisa mencapai puluhan. Di meja sekretarisku telepon akan sering berdering, orang-orang menawarkan harga, lalu disusul pemesanan-pemesanan barang. Tukang-tukang bergilir datang dan pergi mulai dari tukang batu, tukang kusen, disusul tukang marmer, tukang kaca, lalu yang terakhir tukang furniture.

Bisa kau bayangkan? Garis-garis yang kami buat akan menyambung kehidupan banyak orang. Memunculkan kebahagiaan-kebahagiaan, perayaan kecil-kecilan ketika selesai memancangkan pondasi, selesai membuat plat lantai, menyelesaikan tampak, dan banyak kejadian lainnya di antara peluh setelah seharian bekerja.

Secara pribadi, kau seperti tengah membuat gambar rancangan baju. Memberi tanda di mana orang harus menggunting dan menjahitnya. Mengawasi pekerjaan mereka agar sempurna mewujudkannya. Memastikan tidak ada satu lembar pun benang yang terlewatkan. Dan setelah baju itu jadi, kau akan menyerahkannya lengkap dengan buku pedoman pemakaiannya. Fantastis, bukan? Menghadiahkan sesuatu kepada seseorang hasil dari kerja keras yang kita lakukan dengan senang hati. Membuat orang lain merasa bahagia dan dimanjakan… itulah letak kenikmatan menjadi seorang arsitek sekaligus membangunnya.

“Meski keuntungan yang kita ambil sebagai kontraktor nanti tidak banyak, setidaknya sebagai seorang arsitek kita memberikan yang terbaik. Jangan tangung-tangung dalam berkarya”, kata bosku lagi.

Dan proyek yang secepatnya akan dikerjakan ini, seperti halnya proyek2 sebelumnya, akan menjadi motor bagi tetangga-tetangganya untuk membuat yang serupa. Atau lebih baik.

Senyumku masih membekas.

Malam ini aku menemukan alasan mengapa aku begitu menyukai profesi ini. Meski duitnya nggak banyak. Hix…

kuceritakan tentangku

•March 25, 2009 • 1 Comment

Ok, beib…. Akan kuceritakan sedikit hal tentangku, agar kamu tidak bingung ketika di tengah malam ada sms datang yang isinya “Cuma pengen bilang kalo aku kangen kamu”. Kuharap kamu sabar membacanya.

1.    Aku sangat mencintai dunia pada pukul lima sore hingga magrib saat cuaca cerah, melihat para pekerja dengan helm proyek pulang ke rumahnya, mesin2 backhoe dan bulldozer dimatikan, anak-anak kecil bermain ayunan di jalur hijau cengkareng, ibu-ibu berkumpul di pos kamling sambil menyuapi bayinya, dan matahari tampak tenggelam perlahan dari ujung atap kost-ku.

2.    Aku romantis dan bisa sangat gombal dengan orang-orang yang kusayangi.

3.    I’m crazy of Jack Sparrow.

4.    Berceritalah. Maka hingga akhir menit ke 120 pun aku tetap akan menjadi pendengar setiamu ( terutama jika itu cerita tentang dataran yang jauh, orang-orang bermata biru itu, semesta, matahari, ombak, dan dermaga. Aku bisa menjadi sangat sabar ).

5.    Jika kau berkata padaku, “berceritalah, karena aku baru pengen denger suaramu” maka kamu hanya akan mendengar rangkuman dariku. Tapi setelah itu kamu akan mendapati blog-ku penuh postingan baru. Aku memang bukan penutur lisan yang baik. Tapi kamu akan menemukan sangat banyak yang tertuliskan daripada yang terucapkan.

6.     Aku senang berkenalan dan ngajak ngobrol orang yang duduk di sebelahku setiap kali pulang naik kereta. Dan aku mendapat banyak keuntungan darinya.

7.    Bisa jatuh suka pada seseorang selama berbulan-bulan meski baru kenal dan hanya ngobrol semaleman.

8.    Suka menulis, menyukai kata, tapi lebih mencintai angka ( sorry, bee… saranku sepertinya kau harus mulai bersahabat dengan angka. It’s fun, u know…)

9.    Cepat mendapatkan motivasi tapi lebih cepat kehilangannya.

10.    I have dominant classic type A personality dan aku sering mendapatkan kesulitan karenanya. Maka jika ditanya aku akan masuk asrama mana, sebelum menjawab kuisnya aku tahu bahwa aku seorang slytherin sejati.

11.    Berada di kantor ber-AC seharian bisa mengubah pembawaanku. Tapi beri saja aku waktu satu jam untuk berpanas-panasan datang ke proyek dan ketemu tukang. Maka kamu akan melihatku tersenyum sepanjang sisa jam kantor setelah itu.

12.    Lebih senang duduk di angkringan daripada di starbucks atau J-co ( kecuali kau yang mengajaknya, Bee ) bukan karena alasan finansial.

13.    Suka segala hal yang berbau green tea : susu green tea, sabun green tea, lulur green tea, kue rasa green tea, dodol green tea… dan aku akan cepet-cepetan pesen green tea sebelum Bee memesannya jika kami makan bareng di harvest.

14.    Am I an adventurer? Entahlah… yang jelas aku menyukai tempat-tempat baru, membawa back pack, kedinginan, dan tidur beratapkan bintang. Mungkinkah itu tanda2 seorang petualang? Mungkin Bubin tidak 100% sependapat karena aku tidak menyukai resiko sebagaimana aku menyukai hal2 di atas.

15.    Seperti yang sudah kukatakan aku rela membuang pulsa hanya untuk mengirim sms yang isinya “Cuma pengen bilang kalo aku kangen kamu” atau “Happy fullmoon niteeee……”

16.    Dengan mudah aku mengatakan “I love u” pada banyak orang. (I love u, Bee… aku I love u, Dee… I love u, sand… Dan masih.  Sampai detik ini dan setelah ini…)

17.    Aku tidak menyukai keramaian apalagi tempat dengan banyak orang menjerit di dalamnya. Maka jika kau ingin mengajakku melihat pertunjukan, cukup bawa aku ke puncak bukit dan beri aku peta bintang. Kuharap kamu tidak bosan.

18.    Aku bisa menggambar sekaligus mendengarkan musik dan menghapalkan liriknya sekaligus memikirkan kelanjutan tulisanku sekaligus merencanakan apa yang akan kumakan malam ini dan sarapan besok sekaligus membuat rencana satu minggu ke depan sekaligus mengingat-ingat berapa rupiah yang sudah kukeluarkan minggu ini. So, silakan bilang aku multitasking atau ga bisa fokus tapi yang jelas aku memang tidak perfeksionis.

19.    Aku senang membuat rencana, antusias memulainya, semangat mengerjakannya, tapi sangat kesulitan menyelesaikannya ( gimana bisa jadi kontraktor kaya, kalo gini…)

20.    Cobaan hidup terberat saat ini adalah terjebak macet di belakang bajaj atau bus PO. Deborah.

21.    Suka minum kopi setiap hari meski efek spontan kafein dan gula sangat fatal buatku.

22.    Jangan heran jika kau memeriksa kamarku kau akan menemui 2 buku tebal tentang pesawat tempur, sebuah buku tentang kapal selam (kapal selam beneran, bukan pempek ), sebuah buku karangan Steven Ambrose, dan 3 model pesawat tempur yang kurakit sendiri. Satu sisi kepribadianku yang sampe sekarang juga ga bisa kupahami, bagaimana aku bisa sangat menyukai benda-benda itu.

23.    Aku menyukai warna. Dan kau akan menemukan jutaan warna di kamarku.

24.    Ingin punya piaraan ( kucing atau kelinci mungkin ) tapi sudah langsung merasa ga pede bisa melihara binatang ( piaraan terakhirku adalah seekor anak ayam yang langsung mati sebelum kami mengetahui ia jantan atau betina. Itu terjadi ketika aku kelas 3 SD ).

25.    Meng-copy juga pernyataan Bee : self centered. Alih-alih memakai kata ganti ‘saya’ atau ‘kami’, aku memakai kata ganti ‘aku’.

De Javu…

•March 15, 2009 • Leave a Comment

De Javu…

Tujuh Maret. Masih dengan setting tempat yang sama. Sedikit gerah di sisi Timur Monas. Peron empat penuh sampai tak tersisa lagi tempat untuk duduk. Aku berdiri di sisi peron menantang angin malam. Lima kilogram tergantung nyaman di punggungku. Kereta perlahan memelan disertai desis lembut. Saat penumpang berebut, aku justru mengambil kesempatan duduk di kursi stainless bangunan yang terbuka itu.

Termangu. Sedikit melankolis.

Gerbong menumbuk pelan. Aku melompat masuk bak kernet metromini. Menyisiri satu per satu kursi hingga nomor delapan.

Seorang pria di awal 30 telah mengisi tempat dudukku. Lelaki gondrong yang tengah menekuni kaca itu menoleh dan tersenyum ke arahku.

Ah, tidak. Yang ada di sana adalah seorang lelaki paruh baya dengan perut yang besar. Ramah namun pendiam. Sepertinya dia bukan tipikal penutur cerita. Wajahnya lokal tapi saat kutanya, “Pak, turun di Jogja?” ia justru mengeluarkan tiketnya dan dengan bahasa Indonesia terbata-bata ia menyuruhku memeriksa apakah tiket yang dipegangnya sudah benar dan sama dengan tiket milikku.

“Mas, itu kopernya kapan sampai Dubai?” tanpa menunggu aku langsung membuka pembicaraan.

Kursi tempatku duduk masih sama tak nyamannya. Masinis menyampaikan
sapaan kepada para penumpang. Kereta berderak dan mulai bergerak. Sepi dan sendiri…

“Oh, ini… saya pelaut. Baru saja pulang melaut dari laut merah.” Dan cerita pun merekah.

Handphone milik teman dudukku bergetar. Seorang wanita dengan suara enerjik berbicara di ujungnya. Lalu di menit-menit berikutnya dengan bahasa Perancis fasih, lelaki itu asyik berbincang. Meski koneksi sambung putus, ia tetap menekuni handphonenya hingga aku terkantuk tanpa sempat menanyakan dimana ia belajar bahasa Perancis.

“Bagi saya, yang penting kan FREEDOM !!!! bener nggak?”

“Tul!”

Aku jatuh dalam sumur mimpiku dengan memori masih mendengung-dengung. Tepat enam minggu yang lalu, seseorang telah mengubah hidupku.

***

Smiling Stars

•March 8, 2009 • Leave a Comment

“Pada malam hari kau akan memandang bintang-bintang. Bintangku terlalu kecil untuk ditunjukkan kepadamu. Tetapi lebih baik begitu. Bagimu, bintangku hanyalah salah satu dari begitu banyak bintang. Dengan begitu, kau akan senang memandang semua bintang… semua akan menjadi temanmu. Lebih-lebih lagi, aku akan memberimu hadiah.”

Dia tertawa lagi.

”Ah! Pangeran Kecil, Pangeran Kecil, betapa aku senang mendengar tawamu!”

”Justru itulah hadiahku… akan jadi seperti kita meminum air itu…”

”Apa Maksudmu?”

”Bagi setiap manusia, bintang-bintang memiliki makna berbeda-beda. Bagi orang-orang tertentu – para pengembara – bintang-bintang adalah pemandu mereka. Bagi yang lain, bintang-bintang hanyalah cahaya kecil di langit. Bagi orang lain – para ilmuwan – bintang-bintang adalah persoalan yang harus dipecahkan. Bagi pengusahaku, mereka berarti emas. Tetapi bagi semua orang ini, bintang-bintang itu diam. Sedangkan kau, kau akan memiliki bintang-bintang yang tak pernah dimiliki orang lain.”

”Apa maksudmu?”

”Pada malam hari, jika kau menengadah menatap langit, karena aku tinggal di bintang, dan karena aku akan tertawa di bintang, bagimu seakan semua bintang sedang tertawa. Hanya kau sendirilah yang akan memiliki bintang-bintang yang bisa tertawa!”

Dan dia tertawa lagi.

”Dan jika kau sudah mengatasi kesedihanmu ( kita semua bisa mengatasi kesedihan kita ), kau akan senang pernah mengenalku. Kau akan tetap menjadi sahabatku. Kau akan ingin tertawa bersamaku. Dan kadang-kadang kau akan membuka jendelamu – begitu saja, karena ingin membukanya – dan teman-temanmu tercengang melihatmu tertawa ketika memandang langit. Maka kau akan berkata kepada mereka, ”ya, bintang-bintang itu selalu membuatku tertawa!”

Antoine de Saint-Exupery, Le Petit Prince

Senja

•March 3, 2009 • Leave a Comment

Sore itu, ratusan gumpal kapas awan tipis menghiasi langit pantai utara Jakarta. Di baliknya, selembar sutra oranye muda terbentang membentuk kubah raksasa di angkasa. Cerah. Sebentar lagi senja pasti akan tampak sangat indah. Beberapa ekor burung sesekali melintas membentuk formasi.  Berkoak pelan di tengah kesunyian dan kekosongan nun jauh di sana.

Setitik benda melayang dari arah Soekarno-Hatta. Mendesis pelan jika didengar dari tempatku menyimak. Sayapnya terkembang kaku memandu tubuhnya yang panjang seperti pensil. Ia terbang menuju entah. Ke arah Barat sedikit Utara kiranya.

Angin pantai mendayu pelan menggoyangkan ujung jilbabku. Pesawat melintas di atas wilayah ini sudah ratusan kali kutemui. Namun baru kali ini ia begitu dahsyat membangkitkan rindu. Harusnya dari dulu kusadari bahwa seorang petualang sejati tidak akan pernah bisa berhenti. Ia akan selalu haus akan aroma laut dan desiran lembut udara kebebasan yang meniup deknya. Dan yang pasti hidup di kenyataan tidak sesederhana film-film drama percintaan. Dipertemukan oleh nasib, berkenalan, jatuh cinta, lalu hidup bahagia selamanya. Heh, rasanya ingin menonjok muka sendiri.

Mas, tanggal 9 Maret long weekend loh… di Jogja ada Grebeg. Jadi kamu bisa benar-benar merasakan pulang ke Indonesia.

Wah, tanggal segitu saya sudah berlayar lagi, Din!

Sekotak kenangan itu sepertinya harus rela kularung bersama angin. Ia hanyalah titisan Tuhan yang didatangkan untuk menyampaikan satu pesan. Tugas telah diluluskan. Jatahku telah diserahkan dan aku tidak memiliki hak untuk menuntut kelebihan. Sorot mata yang hangat itu suatu saat mungkin akan kembali dicabut Tuhan dari memoriku. Hingga yang tersisa tinggal pelajaran tentang keberanian yang entah siapa telah menyampaikan. Dan suatu hari ketika aku membuka dompetku, menemukan selembar mata uang Rusia bergambar bendungan di satu sisi dan jembatan di sisi lainnya, aku akan bertanya-tanya. Bagaimana aku bisa memiliki benda ini?

Pesawat melayang menuju Barat Laut menyongsong senja. Formasi burung kembali melintas syahdu melepas kepergiannya. Satu potong kenangan terakhir agaknya masih terdampar bersama warna merah angkasa.

Din, dua bulan lagi saya akan berlayar di Thailand…